Rabu, 06 April 2011

KEBUDAYAAN

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Definisi Budaya

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Pengertian kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat

MANUSIA

Ada berbagai macam definisi manusia. Definisi secara fisiologis atau fisik, juga definisi sosiologi, dll. Apabila didefinisikan secara fisiologis, manusia itu sebenarnya adalah makhluk yang mempunyai organ-organ dan anggota-anggota tubuh yang hampir sama dengan hewan. Hewan punya kepala, maka manusia punya kepala. Hewan punya telinga, maka manusia punya telinga. Hewan punya kaki, maka manusia pun punya kaki. Dari segi fisiologis bisa dikatakan tidak ada perbedaan antara manusia dengan hewan. Lalu apa yang membedakan manusia dari hewan? Yang membedakan manusia dari hewan adalah akal. Hewan, cenderung melakukan sesuatunya atas dorongan insting hewannya. Insting dasarnya untuk bertahan hidup. Seperti rasa lapar yang mendorong hewan untuk mencari makanan, diantaranya adalah berburu. Kemudian insting berkembang biak guna melangsungkan garis keturunannya, insting untuk berlindung dari bahaya dengan membuat sarang atau berkelompok. Apabila diperhatikan dengan seksama, manusia pun melakukan hal-hal tersebut yang dilakukan oleh hewan. Yang membedakan adalah, hal-hal yang dilakukan oleh para hewan tadi, tidak mereka kembangkan seperti halnya manusia. Seperti cara berkomunikasi. Setiap hewan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda satu sama lain, tapi tiap-tiap hewan yang sama jenisnya, memiliki cara komunikasi yang sama. Berbeda dengan manusia, akal yang dimiliki manusia membuat manusia untuk menciptakan bahasa komunikasi yang menegaskan sekaligus membedakan identitas diri mereka, seperti negara Inggris dan negara Jerman. Mereka sama-sama negara eropa, mayoritas penduduknya juga orang asli eropa, tapi mereka menggunakan bahasa yang benar-benar berbeda. Akal juga memberi manusia kemampuan untuk berfikir, berinovasi dengan teknologi-teknologi dasar dan material-material alam yang ada ,sehingga mampu untuk menciptakan alat-alat berteknologi tinggi yang berguna untuk mempermudah hidup manusia. Dan banyak hal-hal yang dapat dilakukan oleh manusia dengan menggunakan akal. Hal-hal lain yang juga dapat membedakan antar manusia dengan hewan adalah:

- Kerohanian dan Agama

Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, yang menjadi perdebatan diantara organisasi agama adalah mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu.



- Hati dan kesadaran

Pengalaman subyektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya, kesadaran -diri atau pikiran, memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri dan dari perjalanan waktu. Kesadaran memberikan naiknya persepsi akan kehendak bebas, meskipun beberapa percaya bahwa kehendak bebas sempurna adalah khayalan yang menyesatkan, dibatasi atau dilenyapkan oleh penentuan takdir atau sosial atau biologis. Hati manusia diperluas ke luar kesadaran, mencakup total aspek mental dan emosional individu. Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar (tak sadar). Praktek psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund  Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar. Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego, dan Id. Carl Gustav Jung memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif / bersama dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketepatan pendefinisian individu ‘yang dapat diartikan’.

- Emosi

Individu manusia terbuka terhadap emosi yang besar memengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati.

- Seksualitas

Seksualitas manusia, di samping menjamin reproduksi, mempunyai fungsi sosial penting, membuat ikatan / pertalian dan hirarki di antara individu. Hasrat seksual dialami sebagai sebuah dorongan / keinginan badani, sering disertai dengan emosi kuat positif (seperti cinta atau luapan kegembiraan) dan negatif (seperti kecemburuan / iri hati atau kebencian).

- Tubuh

Penampilan fisik tubuh manusia adalah pusat kebudayaan dan kesenian. Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa. Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subyektif dari penampilan seseorang.
Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia (lihat pula ilmu makanan). Kegagalan mendapatkan makanan secara teratur akan berakibat rasa lapar dan pada akhirnya kelaparan (lihat juga malnutrisi).
Rata-rata waktu tidur (dengan nilai minimal) adalah 8 jam per hari untuk dewasa dan 10 jam untuk anak-anak. Orang yang lebih tua biasanya tidur selama 6 jam. Sudah umum, namun, dalam masyarakat modern bagi orang-orang untuk mendapat waktu tidur kurang dari yang mereka butuhkan. Tubuh manusia diancam proses penuaan dan penyakit. Ilmu pengobatan adalah ilmu pengetahuan yang menelusuri metode penjagaan kesehatan tubuh.

- Kelahiran dan kematian

Kehidupan subyektif individu berawal pada kelahirannya, atau dalam fase kehamilan terdahulu, selama janin berkembang di dalam tubuh ibu. Kemudian kehidupan berakhir dengan kematian individu. Kelahiran dan kematian sebagai peristiwa luar biasa yang membatasi kehidupan manusia, dapat mempunyai pengaruh hebat terhadap individu tersebut. Kesulitan selama melahirkan dapat berakibat trauma dan kemungkinan kematian dapat menyebabkan rasa keberatan (tak mudah) atau ketakutan . Upacara penguburan adalah ciri-ciri umum masyarakat manusia, sering diinspirasikan oleh kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Adat kebiasaan warisan ataupenyembahan nenek moyang dapat memperluas kehadiran sang individu di luar rentang usia fisiknya. 

Rabu, 02 Maret 2011

ILMU BUDAYA DASAR

         
Ilmu budaya dasar adalah ilmu yang mempelajari dasar-dasar dari kebudayaan. Secara umum pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani.

Pokok-pokok yang terkandung dari beberapa devinisi kebudayaan
1. Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beragam
2. Kebudayaan didapat dan diteruskan melalui pelajaran
3. Kebudayaan terjabarkan dari komponen-komponen biologi, psikologi dan sosiologi
4. Kebudayaan berstruktur dan terbagi dalam aspek-aspek kesenian, bahasa, adat istiadat, budaya daerah dan budaya nasional

Latar belakang ilmu budaya dasar

latar belakang ilmu budaya dasar dalam konteks budaya, negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:
1.  Kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, dan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan (primodial) kesukuan dan kedaerahan.
2.  Proses pembangunan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya. Akibat lebih jauh dari pembenturan nilai budaya ini akan timbul konflik dalam kehidupan.
3.  Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi, yang disamping memiliki segi-segi positifnya, juga memiliki segi negatif akibat dampak negatif teknologi, manusia kini menjadi resah dan gelisah.

Tujuan Ilmu Budaya Dasar

1. Mengenal lebih dalam dirinya sendiri maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja
2. Mengenal perilaku diri sendiri maupun orang lain
3. Sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup
4. Perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia serta mau tahu perilaku manusia
5. Tanggap terhadap hasil budaya manusia secara lebih mendalam sehingga lebih peka terhadap masalah-masalah pemikiran perasaan serta perilaku manusia dan ketentuan yang diciptakannya
6. Memiliki penglihatan yang jelas pemikiran serta yang mendasar serta mampu menghargai budaya yang ada di sekitarnya dan ikut mengembangkan budaya bangsa serta melestarikan budaya nenek moyang leluhur kita yang luhur nilainya
7. Sebagai calon pemimpin bangsa serta ahli dalam disiplin ilmu tidak jatuh kedalam sifat-sifat kedaerahan dan kekotaan sebagai disiplin ilmu yang kaku
8. Sebagai jembatan para saran yang berbeda keahliannya lebih mampu berdialog dan lancar dalam berkomunikasi dalam memperlancar pelaksanaan pembangunan diberbagai bidang mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun serta mampu memenuhi tuntutan perguruan tinggi khususnya Dharma pendidikan


Ilmu Budaya Dasar Merupakan Pengetahuan Tentang Perilaku Dasar-Dasar Dari Manusia

Unsur-unsur kebudayaan
1. Sistem Religi/ Kepercayaan
2. Sistem organisasi kemasyarakatan
3. Ilmu Pengetahuan
4. Bahasa dan kesenian
5. Mata pencaharian hidup
6. Peralatan dan teknologi

Fungsi, Hakekat dan Sifat Kebudayaan Fungsi Kebudayaan

Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan berbehubungan dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya.

kebudayaan berfungsi sebagai:
1. Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok
2. Wadah untuk menyakurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
3. Pembimbing kehidupan manusia
4. Pembeda antar manusia dan binatang

Hakekat Kebudayaan
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia
2. Kebudayaan itu ada sebelum generasi lahir dan kebudayaan itu tidak dapat hilang setelah generasi tidak ada
3. Kebudayan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang memberikan kewajiban kewajiban

Sifat kebudayaan
1. Etnosentis
2. Universal
3. Alkuturasi
4. Adaptif
5. Dinamis (flexibel)
6.
Integratif (Integrasi)

Aspek-aspek kebudayaan
1. Kesenian
2. Bahasa
3. Adat Istiadat
4. Budaya daerah
5. Budaya Nasional

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses perubahan kebudayaan faktor-faktor pendorong proses kebudayaan daerah

1. kontak dengan negara lain
2. sistem pendidikan formal yang maju
3. sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju
4. penduduk yang heterogen
5. ketidak puasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu

Faktor-faktor penghambat proses perubahan kebudayaan

1.faktor dari dalam masyarakat
* betambah dan berkurangnya penduduk
* penemuan-penemuan baru
* petentangan-pertentangan didalam masyarakat
* terjadinya pemberontakan didalam tubuh masyarakat itu sendiri

2. faktor dari luar masyarakat
* berasal dari lingkungan dan fisik yang ada disekitar manusia
* peperangan dengan negara lain
* pengaruh kebudayaan masyarakat lain

Jumat, 31 Desember 2010

Softskill Ilmu Sosial Dasar

 HUBUNGAN PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI



            Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi sering dikaitkan satu sama lain karena dianggap keduanya saling mempengaruhi perkembangannya satu sama lain, dimana aspek pertumbuhan ekonomi dapat menjadi daya tarik imigrasi dan menjamin kondisi kehidupan yang layak bagi penduduk, sehingga meningkatkan kualitas daripada penduduk. Sebaliknya, pertumbuhan penduduk sering dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi karena, seringkali tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara diukur dari pendapatan per kapita dan daya beli penduduknya. Hal inilah yang membuat pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi saling mempengaruhi dan berhubungan. Namun dalam isu hubungan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi di dalam sebuah negara, juga dapat bersifat negatif bagi pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Dimana pertumbuhan penduduk menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi ketika sebuah negara mengalami kondisi pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi, namun negara tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan dari jumlah produksi dan jumlah lapangan kerja yang layak bagi penduduknya, menimbulkan banyaknya pengangguran dikalangan penduduk, sehingga terjadi penurunan nilai pendapatan per kapita penduduk negara tersebut. Hal seperti ini adalah merupakan aspek yang paling sering terjadi terutama di negara-negara berkembang. Ini dikarenakan fluctuasi pertumbuhan penduduk yang begitu drastic, sehingga sarana dan prasarana yang disediakan oleh negara untuk menunjang mutu kualitas hidup penduduknya, tidak mampu memenuhi tingkat permintaan yang begitu besar dalam waktu yang singkat. Walaupun tingkat kemiskinan yang tinggi di negara-negara berkembang bukan semata-mata hanya diakibatkan oleh tingkat pertumbuhan penduduk.

            Isu dari perumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, seperti contoh diatas. Sebetulnya merupakan isu yang setua isu Ekonomi itu sendiri. Malthus (1798) mengklaim bahwa ada kecenderungan tingkat pertumbuhan penduduk atau populasi penduduk meningkat  secara geometris, sedangkan tingkat produksi meningkat secara aritmatis. Sehingga, pertumbuhan populasi penduduk yang tak dibatasi atau dikendalikan tingkat pertumbuhannya di sebuah negara dapat menyebabkan negara tersebut jatuh kepada kemiskinan akut. Namun pandangan tersebut tidak terbukti untuk negara maju, dan bahwa mereka berhasil mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan populasi serta produk domestik bruto nyata per kapita mampu untuk ditingkatkan. Perdebatan antara positif dan negatif dari pertumbuhan penduduk atau populasi penduduk masih terus berlangsung. Dimana pertumbuhan penduduk dapat menambah jumlah tenaga kerja, dan karenanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Populasi penduduk yang besar juga dapat menyediakan pasar domestik yang besar bagi perekonomian. Selain itu, pertumbuhan penduduk juga mendorong persaingan, yang mendorong kemajuan teknologi dan inovasi. Namun demikian, pertumbuhan penduduk yang besar tidak terkait dengan masalah makanan, namun juga memberlakukan kendala pada pengembangan tabungan, valuta asing dan sumber daya manusia. Secara umum, tidak ada konsensus apakah pertumbuhan penduduk menguntungkan atau merugikan terhadap pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Selain itu bukti empiris terhadap hal ini untuk negara berkembang adalah relatif terbatas.

            Masalah pertumbuhan pendududuk dan pertumbuhan ekonomi juga terkait terhadap upah minimum. Pertumbuhan penduduk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan karenanya menyebabkan penurunan upah. Model standar ekonomi terkait dengan permintaan tenaga kerja, memprediksikan bahwa upah rendah akan meningkatkan permintaan untuk tenaga kerja. Sehingga hasilnya kesejahteraan ekonomi akan meningkat. Selain itu juga, upah rendah akan mendorong industri yang padat karya. Upah rendah dikatakan adalah faktor penting yang memberikan kontribusi terhadap industrialisasi dari ekonomi terindustri baru Asia, seperti Korea, Hong Kong, Taiwan dan Singapur. Selain itu juga, dikatakan bahwa hal ini menjadi faktor penting yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di China. Sebaliknya, model standar ekonomi terhadap permintaan tenaga kerja memprediksikan bahwa pengenalan atau peningkatan upah minimum akan merusak mekanisme. Yaitu, tidak akan ada hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun demikian, berbagai monopsoni, efisiensi upah, dan model pencarian menunjukkan bahwa dalam beberapa kondisi, upah minimum memang bisa menaikkan tingkatan pengerjaan.    Bukti empiris tentang masalah ini tercampur,  dengan  beberapa penelitian yang menunjukkan efek negatif, dan lain-lain yang menunjukkan efek positif, atau nol dari upah minimum. Dengan demikian, tidak ada hubungan yang jelas dari pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, studi tentang upah minimum dan pekerjaan dilakukan terutama untuk negara maju.



Senin, 29 November 2010

SOFTSKILL ILMU SOSIAL DASAR

PENGERTIAN INDIVIDU


            Individu, istilah individu berasal dari bahasa latin individuum yang artinya tidak terbagi. Sedangkan dalam konsep sosiologis individu artinya manusia yang berdiri sendiri. Namun penjelasan individu sebagai entitas yang tidak dapat terbagi belum begitu tepat. Penjelasan yang lebih jelas dari individu yaitu, individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam artian unit terkecil, berarti bahwa individu tidak dapat diuraikan kembali. Individu adalah sebuah kesatuan tunggal yang berdiri sendiri, dengan kemampuan sendiri. Adanya konsep individu sendiri terkait dengan konsep masyarakat, dimana masyarakat pengertiannya adalah sebuah organisme yang terbentuk dari beberapa individu. Masyarakat tidak ada tanpa ada individu, dimana pengertian individu pun ada setelah adanya konsep masyarakat.
           
            Untuk lebih memperjelas definisi dari individu perlu adanya pembanding yang membedakannya, yaitu masyarakat. Keberadaan individu tidak terlepas dari keberadaan masyarakat dan sebaliknya. Hubungan antara individu dan masyarakat sesungguhnya saling berkaitan, dan cenderung tidak terpisah. Yang menjelaskan pentingnya istilah masyarakat untuk menjelaskan pengertian istilah individu, adalah  dikarenakan individu merupakan sebuah pondasi dari atau landasan, serta awal masyarakat. Adanya individu yang membentuk masyarakat membuat individu penting bagi terbentuknya masyarakat. Namun tanpa keberadaan istilah masyarakat, maka istilah individu tidak dapat dijelaskan. Dikarenakan istilah masyarakat dan istilah individu, kedua-duanya merupakan pembanding, penegas dan pembeda bagi satu sama lain. Sehingga kedua-duanya penting dan saling melengkapi.

            Manusia sebagai mahluk individu, contoh manusia sebagai mahluk individu, artinya dia dapat berdiri sendiri, atau bertahan hidup dengan menggunakan panca inderanya sendiri dan akalnya sendiri, tanpa perlu mendapatkan bantuan dari manusia yang lain. Kemampuan manusia yang bertahan hidup dengan menggunakan insting bertahan hidupnya inilah yang membuat manusia menjadi mahluk individu. Namun kesulitan dan kendala kehidupan yang selalu ada dalam proses seleksi alam, menyebabkan manusia memiliki kecenderungan untuk berinteraksi atau bekerja sama dengan manusia lain dalam menghadapi proses tersebut. Hal ini menyebabkan manusia nyaris kehilangan insting sebagai mahluk individu. Sehingga manusia bukan lagi sebagai mahluk individu, tapi manusia sebagai mahluk social. Namun adanya sifat serta tindakan dan cara berpikir manusia yang cenderung bermanfaat bagi dirinya sendiri, dan bukan manusia lain. Serta kecenderungan manusia untuk mengutamakan keselamatan dirinya sendiri tanpa mempedulikan keselamatan dari manusia yang lain, secara langsung menghapus konsep manusia adalah mahluk social. Sehingga definisi yang lebih tepat, manusia adalah mahluk individu yang bersifat social. Artinya manusia mampu hidup sendiri dengan kemampuannya sendiri, tetapi lebih memilih bekerja sama dengan manusia lain untuk mencapai tujuannya.
           
            Individu dan perananannya dalam kehidupan, adalah untuk membedakan antara entitas tunggal yang satu dengan entitas tunggal yang lain. Individu adalah merupakan konsep kemandirian. Individu dapat berdiri sendiri tanpa bantuan dari apapun, sebagai contoh mahluk yang satu dengan yang lain dapat saling bekerja sama dan hidup bersama-sama, namun mereka tetap menjadi bagian yang terpisah dari satu sama lain. Artinya, walaupun tanpa keberadaan mahluk yang lain, suatu mahluk mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Sehingga untuk memenuhi peran dan kebutuhannya hanya dengan mengandalkan kemampuannya sendiri inilah, yang menyebabkan mahluk tersebut disebut dengan individu. Karena mahluk tersebut mampu menghidupi dirinya sendiri atau bisa disebut juga mandiri, hal inilah yang menjelaskan konsep individu sebagai konsep kemandirian.

            Secara alamiah, penjelasan individu yang berasal dari istilah bahasa latin Individuum, yang berarti tidak dapat dibagi, tidak semata-mata menjelaskan secara mutlak pengertian dari individu, sebagai contohnya Amoeba. Satu amoeba, disebut sebagai individu karena dia tunggal. Namun apabila diberikan kondisi yang tepat, amoeba dapat membelah dirinya menjadi amoeba lain yang juga merupakan kesatuan tunggal. Dengan begini amoeba sebagai individu dapat terbagi. Namun penjelasan individu sebagai entitas yang tidak dapat dibagi, diperkuat apabila yang dijelaskan sebagai individu ini sendiri adalah manusia. Manusia tidak dapat dibagi, dan untuk manusia tersebut menjadi manusia lain atau berkembang biak, membutuhkan peran dari manusia yang lain. Tidak seperti amoeba yang dapat membelah dirinya untuk berkembang biak. Namun secara struktur biologisnya, pada dasarnya tubuh manusia ini dibentuk oleh sel-sel yang saling bekerja sama satu sama lain membentuk organ-organ vital pada manusia, membuat manusia tidak dapat disebut sebagi mahluk individu dikarenakan manusia bukan berasal dari satu entitas tunggal, namun merupakan wujud dari pembentukan entitas-entitas tunggal yang lain yaitu sel-sel pada tubuh manusia tadi.

            Banyak definisi yang menjelaskan tentang definisi dari individu, penjelasan secara alamiah, secara struktur biologisnya dan penjelasan secara social. Namun karena hubungan antar individu lebih sering dikaitkan dengan hubungan antar manusia, maka definisi tentang individu lebih sering didefinisikan secara social. Jadi dalam hal ini, individu juga dapat disebut sebagai manusia yang tunggal, manusia yang berdiri sendiri atau mandiri, yang tidak bergantung pada manusia lain untuk keberlangsungan hidupnya. Dalam kenyataannya, sesungguhnya manusia memang tidak membutuhkan manusia lain untuk bertahan hidup, namun demi keberlangsungan rasnya, manusia membutuhkan manusia yang lain.

            Secara lebih jelas lagi individu yang juga berarti manusia, sebagai mahluk ciptaan Tuhan terbentuk dari 4 macam konsep kelengkapan hidup, yaitu RAGA, yang merupakan bentuk jasad manusia yang khas yang dapat membedakan antara individu yang satu dengan yang lain, sekalipun dengan hakikat yang sama. Yang kedua adalah RASA, yang merupakan perasaan manusia yang dapat menangkap objek gerakan dari benda-benda isi alam semesta atau perasaan yang menyangkut dengan keindahan. Yang ketiga adalah RASIO atau akal pikiran, merupakan kelengkapan manusia untuk mengembangkan diri, mengatasi segala sesuatu yang diperlukan dalam diri tiap manusia dan merupakan alat untuk mencerna apa yang diterima oleh panca indera. Dan yang keempat RUKUN atau pergaulan hidup, yang merupakan bentuk sosialisasi dengan manusia dan hidup berdampingan satu sama lain secara harmonis, damai dan saling melengkapi. Konsep kelengkapan hidup yang keempat atau RUKUN inilah yang cenderung menyebabkan manusia bersifat social. Karena oleh Tuhan manusia diciptakan untuk saling bekerja sama satu sama lain untuk keberlangsungan hidup di dunia. Tapi hal ini tetap tidak membuat manusia menjadi mahluk social, tapi cenderung lebih memperkuat definisi manusia sebagai mahluk individu yang bersifat social. Sifat social penting bagi manusia agar dapat berinteraksi dengan manusia lain, dan interaksi dengan manusia lain penting untuk menjaga kesehatan mental manusia, karena sifat mengisolasi diri bukanlah sifat dasar manusia.

            Dari penjelasan-penjelasan di atas dijelaskan tentang definisi individu, atau secara sosial lebih sering dikenal sebagai manusia. Jadi disimpulkan bahwa Individu adalah manusia yang berdiri sendiri dan memenuhi kebutuhan dasarnya dengan atas usaha dari dirinya sendiri, yang memiliki raga yang secara fisik membedakan dirinya dengan manusia yang lain, yang memiliki rasa yang menangkap segala hal-hal yang ada disekitarnya, yang ditelaah menggunakan rasio sehingga manusia dapat menentukan apa yang baik bagi dirinya ataupun tidak, guna untuk mengembangkan fungsi dirinya dalam rukun, yang merupakan bentuk interaksi terhadap manusia lain dalam proses keberlangsungan hidupnya di dunia sebagai mahluk ciptaan Tuhan.

Sabtu, 30 Oktober 2010

KEPENDUDUKAN DAN ANGKA KELAHIRAN





I. Pengertian dan Manfaat Ilmu Kependudukan

            Kependudukan (demografi), adalah bidang ke-ilmuan yang mempelajari tentang dinamika kependudukan manusia, sedangkan aspek-aspek yang dipelajari atau diperhitungkan dalam ilmu kependudukan, secara spesifik yaitu, ukuran, kemudian struktur, lalu distribusi penduduk, dan pertumbuhan jumlah penduduk. Fungsi dari ilmu kependudukan adalah, untuk menganalisa masyarakat secara keseluruhan. Namun, ilmu kependudukan juga dapat dikelompokan oleh kriteria-kriteria seperti, pendidikan, agama, kewarganegaraan, atau etnisitas tertentu. Proses penganalisaan ilmu kependudukan terhadap masyarakat, dalam pengerjaannya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti, tingkat kelahiran, tingkat kematian dan tingkat migrasi.

II. Tujuan Mempelajari Ilmu Kependudukan

Pentingnya mempelajari ilmu kependudukan terhadap pemerintahan suatu negara, maupun pemerintahan di wilayah manapun, adalah untuk mengetahui tingkat pertumbuhan penduduk disetiap wilayah di dalam lingkungan negaranya, sehingga dapat secara efektif mampu menerapkan hukum, serta aturan-aturan, yang dapat digunakan untuk mengawasi, dan mengatur, hak serta kewajiban dari tiap-tiap anggota masyarakat.
Ilmu kependudukan juga dapat menjadi faktor penentu bagi negara tersebut supaya mampu menyediakan fasilitas-fasilitas umum seperti, pekerjaan, transportasi umum, ataupun fasilitas-fasilitas pendidikan bagi penduduknya. Ilmu kependudukan dalam penerapannya, juga dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi tiap-tiap kebijakan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, pada tiap-tiap wilayah negara, supaya tidak terjadi kesalahan dalam penerapan dan realisasi, serta sosialisasinya terhadap masyarakat.


A. Tingkat Kelahiran

            Tingkat kelahiran adalah salah satu faktor penting yang dianalisa dalam ilmu kependudukan, selain dari faktor tingkat kematian, serta tingkat migrasi. Tingkat kelahiran mempengaruhi tingkat pertumbuhan penduduk secara alami. Dalam penganalisaannya, ada metode-metode yang menggunakan rumus-rumus perhitungan, untuk mengukur secara tepat angka kelahiran dari populasi penduduk di dalam wilayah, sehingga bisa diukur seberapa tingginya tingkat kelahiran di wilayah tersebut.

B.     Angka kelahiran

Angka kelahiran digunakan untuk mengetahui jumlah kelahiran yang terjadi di masyarakat suatu wilayah dalam kurun waktu per tahun. Metode  penghitungan angka kelahiran yang digunakan secara umum salah satunya adalah Crude Birth Rate (CBR) atau tingkat kelahiran kasar. Metode penghitungan CBR, dapat diperoleh dengan menghitung jumlah angka kelahiran per seribu orang tiap tahun, metode ini penghitungannya menggunakan rumus matematis, yaitu :
                                           

N / P (1000)

N   = Jumlah kelahiran di tahun tersebut
P    = Jumlah populasi saat penghitungan

Dengan hasil penghitungan menggunakan rumus di atas, bisa diperoleh angka kelahiran di dalam suatu populasi. Indikator lain yang dapat digunakan untuk mengukur angka kelahiran dengan lebih akurat dibandingkan dengan CBR, adalah dengan menggunakan metode penghitungan tingkat kehamilan total, atau Total Pregnancy Rate (TPR). Metode TPR dianggap sebagai indikator yang lebih akurat dibandingkan CBR dikarenakan metode TPR tidak dipengaruhi oleh distribusi usia dari populasi. Metode-metode lain yang bisa juga digunakan untuk mengukur angka kelahiran yaitu :

-          General Fertility Rate (GFR) atau tingkat kesuburan umum, adalah metode penghitungan angka kelahiran dengan mengukur angka kelahiran tiap 1000 wanita yang berusia 15 – 45 tahun.
-          Standardised Birth Rate (SBR) atau tingkat kelahiran yang distandarkan, adalah metode penghitungan angka kelahiran dengan membandingkan struktur usia-jenis kelamin.
-          Total Fertility Rate (TFR) atau tingkat kesuburan total, adalah metode penghitungan angka kelahiran dengan menghitung pekiraan jumlah rata-rata anak yang akan dilahirkan seorang wanita sepanjang  usia produktifnya untuk melahirkan.

C.    Angka Kelahiran di Indonesia

      Angka kelahiran yang tinggi di Indonesia, adalah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan bagi pemerintah Indonesia, dalam mengambil keputusan serta membuat sebuah kebijakan. Di negara yang memiliki populasi penduduk terbanyak ke-4 di dunia, menurut data tahun 2007, dengan total populasi penduduk mencapai 236.355.303 jiwa, penting bagi pemerintah Indonesia untuk mengetahui seberapa tingginya angka kelahiran di wilayah Indonesia. Sehingga bisa diterapkan kebijakan-kebijakan dengan perencanaan yang matang. Berikut data perhitungan total angka kelahiran tahun 1997, menggunakan metode TFR menurut umur wanita, daerah, periode dan provinsi :  

Referensi waktu
Umur Wanita / Age of Female (Kelahiran per 1000 Wanita)
TFR
Time reference
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
00. Indonesia
155
286
273
211
124
55
17
5.61
11. Nanggroe Aceh Darussalam
158
324
316
241
130
62
22
6.26
12. Sumatera Utara
129
333
351
304
197
94
31
7.2
13. Sumatera Barat
129
313
317
255
152
59
11
6.18
14. Riau
149
299
298
228
140
55
19
5.94
15. Jambi
217
319
301
229
130
58
24
6.39
16. Sumatera Selatan
152
326
320
248
150
56
13
6.33
17. Bengkulu
155
346
330
274
139
70
29
6.71
18. Lampung
216
326
310
224
129
53
13
6.36
19. Kep. Bangka Belitung
0
0
0
0
0
0
0
0
31. DKI Jakarta
140
266
268
198
110
41
12
5.17
32. Jawa Barat
208
305
280
211
199
50
14
6.33
33. Jawa Tengah
144
284
265
199
115
47
12
5.33
34. DI Yogyakarta
68
253
252
199
117
48
14
4.75
35. Jawa Timur
149
246
225
169
96
45
14
4.72
36. Banten
0
0
0
0
0
0
0
0
51. Bali
134
298
300
229
137
67
26
5.96
52. Nusa Tenggara Barat
155
311
321
278
159
75
32
6.66
53. Nusa Tenggara Timur
72
241
292
267
189
94
37
5.96
61. Kalimantan Barat
141
297
308
245
146
82
34
6.26
62. Kalimantan Tengah
179
322
327
258
173
81
25
6.83
63. Kalimantan Selatan
179
264
259
202
109
57
15
5.42
64. Kalimantan Timur
151
292
260
199
114
54
11
5.41
71. Sulawesi Utara
103
312
350
298
199
77
19
6.79
72. Sulawesi Tengah
147
309
316
261
168
75
30
6.53
73. Sulawesi Selatan
133
277
281
226
130
67
27
5.71
74. Sulawesi Tenggara
137
312
314
255
172
83
16
6.45
75. Gorontalo
0
0
0
0
0
0
0
0
81. Maluku
97
267
325
311
225
109
43
6.88
82. Maluku Utara
0
0
0
0
0
0
0
0
94. Papua
172
367
349
286
173
71
21
7.2